Perusahaan Berpolitik: Pembelajaran dari Iklan Dream Crazy-nya Nike

5 September 2018, Nike meluncurkan kampanye Dream Crazy, iklan Nike paling berani dan kontroversial yang menimbulkan banyak reaksi (https://www.youtube.com/watch?v=Fq2CvmgoO7I).

 

Penulis: Karina Prameswari

Para pengkritik, termasuk Presiden Amerika Serikat, sangat tersinggung dan marah karena merek olahraga ini ikut terjun ke ranah politik. Beberapa di antaranya bahkan mengancam untuk membakar sepatu-sepatu Nike. Nyatanya, para pendukungnya justru berkontribusi kepada peningkatan penjualan produk Nike hingga 31%.

Munculnya iklan ini menimbulkan banyak perdebatan apakah sebuah merek harus ikut ambil suara dalam suasana politik yang hiruk pikuk? Nike meluncurkan iklan “Dream Crazy” pada kanal YouTube dengan menampilkan bintang olahraga American football Colin Kaepernick.

Padahal Kaepernick belum lama ini dikeluarkan dari National Football League (NFL), salah satu organisasi olahraga terbesar Amerika, karena keyakinan dan tindakannya. Ia memprotes tindakan rasisme dan kebrutalan polisi Amerika dengan berlutut setiap kali lagu kebangsaan dikumandangkan sebelum permainan dimulai. Tindakannya ini berkembang menjadi sebuah gerakan dan membuat Trump murka.

Seperti diketahui, pada tahun 2016, NFL menyatakan bahwa, “Setiap pemain disarankan tapi tidak diharuskan untuk berdiri saat lagu kebangsaan berkumandang”. Namun, pada buku manual olahraga tertulis bahwa setiap pemain “harus berdiri”. Beberapa orang percaya bahwa sikap ini merupakan bentuk penghormatan bagi personel militer dan polisi yang gugur saat bertugas, maupun sebagai bentuk penghormatan bagi negara.

Tidak seperti perusahaan lain yang memilih untuk menjauhkan citra perusahaan dari kontroversi, Nike justru tak jarang mengangkat narasi sosial dan politik pada kampanye pemasaran mereka. Iklannya di tahun 1995 yang menampilkan Ric Munoz, atlet lari yang secara terbuka menyatakan dirinya gay dan positif mengidap HIV, sempat menimbulkan banyak perbincangan. Juga di tahun 2012 saat Nike mengangkat masalah stereotip gender dalam olahraga.

Pernyataan dan tindakan yang berani tentu tak lepas dari berbagai risiko. Para pemerhati sosial dan politik Amerika percaya iklan ini merupakan tindakan polarisasi politik yang berbahaya dan dapat memecah belah Amerika. Beberapa di antaranya menyatakan bahwa Nike telah melakukan komersialisasi politik. Gerakan untuk memboikot produk Nike mulai bermunculan, bahkan tagar #BurnYourNikes (Bakar Nike-mu) santer di media sosial dari mereka yang menganggap Nike telah melangkah terlalu jauh sebagai partisan.

Nampaknya Nike telah mempersiapkan diri akan kemungkinan terburuk dari iklan kontroversial ini, dan bagaimana keputusan ini akan merugikan perusahaan. Dengan menyoroti tindakan Kaepernick, Nike sadar akan pengorbanan yang harus mereka lakukan—salah satunya adalah kehilangan pelanggan setia dan potensial, serta nilai saham yang terjun bebas.

Pages: 1 2 3

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)