Mengawali tahun 2013, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) berinisiatif untuk merubah logo dan bertransformasi untuk menjadi BUMN yang bersih dan jujur. Selain itu, RNI juga mengumumkan untuk memfokuskan lini bisnisnya dalam empat pilar usaha.

Perusahaan produsen gula PT RNI menargetkan kenaikan nilai aset sebesar Rp10 triliun di tahun 2013 ini, atau meningkat 40 persen dibandingkan tahun 2012 laludari tahun sebelumnya yakni Rp6 triliun.

“Logo baru RNI ini menandai transformasi yang terus menerus dilakukan di lingkungan RNI untuk meningkatkan daya saing dengan memfokuskan diri pada empat pilar utama usahanya, yaitu Agro Industri, Distribusi, Farmasi dan Properti,” kata Direktur Utama RNI, Ismed Hasan Putro dalam sambutan acara peluncuran logo baru RNI di Gedung RNI, Jakarta, Jumat (18/1) lalu.

Sejalan dengan peluncuran logo terbarunya ini, RNI pada tahun 2013 ini menargetkan untuk menambah tujuh sampai delapan anak perusahaannya di empat fokus bisnis. Selain itu, Ismet juga menargetkan nilai aset tembus diangka Rp10 triliun. Angka tersebut meningkat 40 persen dari tahun sebelumnya yakni Rp6 triliun.

Ismed menargetkan laba bersih PT RNI Rp325 miliar pada 2013, dengan cara peningkatan produksi gula yang lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Target itu dituangkan dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan. “Pemegang saham menargetkan laba bersih sebesar Rp325 miliar dan pendapatan RNI, terbesar disumbang dari gula hingga 60 pesen,” tutur Ismed.

Menurutnya, produksi gula pada 2012 mencapai 166 ribu ton dan pada tahun ini harus bisa mencapai 175 ribu ton. Dalam meningkatkan penjualan gula, RNI saat ini melakukan penjualan melalui Rajawali Mart dan pemasaran langsung ke warung-warung di lingkungan masyarakat dengan brand Raja Gula. “Ini meningkatkan keuntungan dan penjualan melalui Rajawali Mart, karena satu tingkat di atas konsumen,” ucap Ismed.

Pada Oktober 2013, rencananya RNI juga akan membangun satu pabrik gula di Gempol dengan kapasitas produksi gula sebanyak 6 ribu ton ceen day (TCD). Pembiayaan pabrik gula tersebut bersumber dari bank sebanyak 70% dan kas internal 30%. “Investasinya Rp1,5 triliun," jelasnya.

Terkait pergantian logo, langkah tersebut tercatat memakan biaya mencapai Rp250 juta. Biaya tersebut adalah biaya internal perusahaan yang diambil dari laba perusahaan yang mencapai Rp450 miliar. "Masa laba Rp450 miliar enggak boleh ganti logo yang hanya habis Rp250 juta," ujar Ismed ketika diberondong pertanyaan oleh jurnalis.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)