The Theatre of War, The Danger

 

Beberapa hari lalu, saya jalan-jalan ke sebuah pasar tradisional di Bogor. Sejumlah pedagang di pasar itu mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat pada Ramadhan 1438 Hijriyah kali ini. Dibanding Ramadhan sebelumnya, penjualan baju di pasar yang dikenal sebagai tempat belanja busana itu untuk lebaran tahun ini cenderung turun. Omzet penjualannya dari hari pertama puasa sampai saat ini terus naik. Hanya saja jika dibandingkan dengan penjualan tahun lalu, dagangannya cenderung sepi.

Akankah lebaran tahun ini akan menjadi kekecewaan bagi pedagang ritel karena marjin yang mereka dapatkan semakin tipis? Ada fenomena yang menarik pada sektor ritel yang setiap tahun terjadi, yakni penjualan dengan diskon. Itu biasa terjadi sejak belasan tahun lalu. Yang berubah dalam beberapa tahun terakhir adalah trend belanja baru yang belum pernah terjadi sebelum-sebelumnya.

Selain tingkat promosi yang tinggi meskipun posisi inventarisnya lebih rendah, dalam beberapa tahun terakhir terakhir ada ekspansi yang luar biasa fenomena belanja mobile dan pergeseran penjualan ke e-commerce. Toko fisik kini tersaingi oleh toko online. Mal-mal mungkin masih ramai. Yang jadi pertanyaan apakah keramaian itu berbanding lurus dengan tingkat penjualan gerai-gerai yang ada di dalamnya?

Dalam buku The End of Shops: Social Buying and the Battle for the Customer, Professor Cor Molenaar – guru besar e-Marketing dan penjualan jarak jauh dari Erasmus University Rotterdam, menulis bahwa internet kini merupakan ancaman utama bagi pedagang tradisional karena tiba-tiba mereka mendapat saingan baru dari pemasok yang tidak dikenal dan dari pemasok yang memiliki batasan lebih sedikit seperti jam buka atau lokasi fisik.

Hari-hari ini pemasok juga berjual beli di internet. Produsen merek menjual melalui situs mereka sendiri dan memiliki strategi pemasaran sendiri. Yang mengkhawatrikan bagi pedagang tradisional adalah mereka ini dapat menginvestasikan lebih banyak uang daripada kebanyakan pengecer. Produsen merek juga ingin membuka toko mereka sendiri, mempertahankan database pelanggan mereka sendiri, mengirim buletin dan memiliki toko web mereka sendiri.

Fenomena ini makin meningkatkan jumlah penjual sehingga makin banyak barang yang masuk ke pasar dan konsumen semakin banyak menjumpai barang-barang yang ditawarkan. Karenanya, sulit untuk mengatakan bahwa toko-toko lama yang ada kini makin banyak mencatat penjualan.

Perilaku pembelian konsumen kini juga berubah ketika terjadi integrasi antara teknologi informasi dan belanja melalui smartphone atau tablet. Produk seperti bahan makanan dan barang rumah tangga masih dibeli secara lokal, yang lebih didasarkan pada dorongan emosional ketimbang rasional.

Pembelian kini semakin banyak dilakukan melalui Internet. Akibatnya, pasar produk fisik seperti buku, musik dan pakaian wanita, menurun. Terlebih lagi, bengkel web besar di Internet semakin sering menjadi pemasok total, sehingga mereka terlihat lebih mirip toko fisik (lihat misalnya Amazon.com).

Perilaku pembelian baru menyebabkan dekomposisi proses pembelian. Informasi menjadi terpisah dari pembelian. Awalnya ini terjadi di sektor travel, dimana pelanggan sekarang bisa mengumpulkan paket sendiri: perjalanan, hotel dan menyewa mobil. Ini adalah tiga jenis pemesanan yang berbeda, yang sekarang dikelompokkan dengan mudah di situs-situs seperti Transavia dan Ryanair.

Pengaturan dan penataan ulang konsep produk sekarang lebih sering terjadi berkat internet. Orang-orang mendasarkan pencarian mereka lebih sedikit di toko dan semakin banyak produk. Urutan pilihan yang dibuat selalu menunjukkan bahwa toko menjadi yang pertama dan kemudian produk.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)