The Theatre of War, The Danger

Inilah sebabnya mengapa lokasi dan rangkaian produk sangat penting dalam perdagangan eceran. Kepercayaan ditempatkan di toko. Kini semakin banyak orang yang terlebih dahulu memilih produk, dan kemudian mencari toko yang sesuai. Alhasil ikatan dengan produk (brand) dan akibatnya kekuatan pabrikan semakin berkembang.

Bagi konsumen Indonesia, dahulu berbelanja merupakan salah satu bentuk rekreasi. Kini, kemungkinan ada pergeseran. Makin tingginya penjualan smartphone dan makin lamanya seseorang menghabiskan waktunya untuk berinteraksi dengan alat komunikasinya mengindikasikan social media kini menjadi semacam rekreasi. Social media dan internet kini sudah menjadi fenomena konsumen Indonesia jaman sekarang.

Dulu sebelum ada handphone dengan internet, orang mempunyai pilihan otomatis kemana untuk rekreasi yaitu belanja. Sekarang orang lebih senang browsing dan chatting untuk menghabiskan waktu. Belanja pun menjadi membosankan dan menjadi pekerjaan rutin.

Para pelaku bisnis menyadari bahwa perilaku orang berbelanja kini telah berubah. Namun banyak peritel dan manufaktur yang belum melakukan adaptasi terhadap perubahan. Mereka menyadari pentingnya trade marketing. Namun, prinsipal masih dalam keadaan demam akibat biaya trading. Jadi banyak yang bersikap pasrah dan tidak inovatif, karena takut akan menambah biaya.

Karena itu wajar bila perkembangan trade marketing di industri consumer goods Indonesia tidak signifikan. Kreatifitas dan inovasi mereka masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari program trade marketing yang selama dua tahun terakhir monoton. Peritel masih mengandalkan diskon, diskon, dan diskon yang sejatinya hanya bersifat short term. Tidak ada yang menyentuh emosi apalagi membangun loyalty. Seyogyanya, belanja itu memberikan kepuasan panca indera. Jadi experience-lah yang turut dijual, bukan hanya produk.

Berbelanja sebagai bentuk dari pemanfaatan waktu luang – menurut sebenarnya belanja sosial. Anda berbelanja karena itu menyenangkan dan karena Anda (sering) melakukannya dengan orang lain. Dengan belanja sosial apa yang terjadi di sekitar belanja sebenarnya, aktivitas perifer, jauh lebih penting daripada mengunjungi toko sendiri. Ini tentang menikmati waktumu dengan teman dan kenalan.

Belanja sosial berbeda dengan pembelian sosial. Dengan berbelanja sosial, belanja bersifat sekunder, sedangkan dengan pembelian sosial, berarti membeli sesuatu bersama dengan orang lain, ini semua tentang membeli. Dalam hal barang belanja sosial bisa dibeli, tapi belum tentu. Ini berbeda dengan pembelian sosial dimana ada sesuatu yang selalu dibeli, atau setidaknya ada niat kuat untuk membeli. Ini semua ada hubungannya dengan pembelian!

Hari-hari ini pelanggan membeli dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Mereka pertama kali melihat di Internet untuk apa yang ingin mereka beli, lihat harganya, bandingkan produknya dan baru kemudian mereka memutuskan untuk membelinya. Membeli di toko kini telah menjadi pilihan; Itu bukan lagi kebutuhan karena orang mempunyai alternative, berbelanja melalui online.

Lalu lintas orang belanja ke mal terus berkurang - bahkan pada hari-hari belanja utama, pembelanja yang makin membutuhkan pengalaman, perjalanan dan makan sebagai hadiah, dan makin panjangnya penawaran belanja dengan diskon karena diskon kini telah menjadi senjata utama bagi peritel untuk memikat pembelanja. Di sisi lain, saluran belanja online juga makin agresif menawarkan diskon berbelanja kapan saja dan dimana saja via perangkat mobile.

Bulan puasa tahun ini, platform belanja online Shopee misalnya, menargetkan kenaikan transaksi sebesar dua kali lipat. Angka kenaikan yang terhitung optimis itu cukup dimaklumi, mengingat animo masyarakat untuk berbelanja sepanjang bulan puasa —termasuk jelang Lebaran—senantiasa tinggi. Itu sebabnya, setiap tahunnya, Shopee selalu memanfaatkan momen potensial tersebut sebagai salah satu kampanye andalannya.

Menurut CEO Shopee Chris Feng, bulan puasa tahun ini berbeda dengan sebelumnya. “Perbedaan tingkah laku pembeli tahun ini yang kami rasakan adalah shopping wave yang dimulai lebih awal dari tahun sebelumnya, dimana kenaikan penjualan sudah dirasa 6 minggu sebelum Lebaran,” katanya.

Bulan puasa merupakan periode tersibuk untuk perdagangan online. Dalam beberapa tahun terakhir, industri ritel di Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya. Sistem e-tailing Indonesia kini memasuki babak baru dengan masuknya beberapa pemain retail off-line ke dalam sistem on-line. Jaringan retail Alfmart misalnya kini memiliki saudara Alfacart.com, platform eCommerce yang merupakan transformasi dari Alfa Online - full marketplace yang menawarkan ragam jenis kebutuhan sehingga mereka kini bersaing dengan blibli.com, Tokopedia dan sebagainya.

Ini memberikan gambaran bahwa konsumen Indonesia makin memiliki banyak pilihan tempat belanja. Bila dulu hanya itu-itu saja pemainnya, kini pemainnya makin banyak dan beragam. Ini merupakann jawaban atas kondisi masih beragamnya pembelanja Indonesia. Beberapa konsumen suka berbelanja, namun trend menunjukkan bahwa mereka – terutama remaja -- menyukai belanja mobile.

Mereka membeli barang apa saja yang mereka ingin beli di mana saja melalui internet. E-trade atau kegiatan e-tailing memang agak tiba-tiba dan menciptakan kejutan di sektor ritel. Beberapa pemain ritel masih berkutat pada model off-line. Namun, banyak juga pengecer yang masuk ke konsep e-commerce dan memperlakukan dunia maya sebagai pasar dengan permintaan dan pasokan sendiri, dengan komunikasi dan pengiriman sistem sendiri.

Pages: 1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)