Gandeng KOL, Pemerintah Edukasi tentang Pentingnya Bijak Berdigital

MIX.co.id - Program Literasi Digital kepada Keluarga Besar TNI (KBT) telah diluncurkan di Jakarta, pada Oktober ini. Dalam rangkaian peluncuran itu, digelar sesi Obral-Obrol Literasi Digital (OOTD) yang menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan KOL (Key Opinion Leader). Sebut aja, Melaney Ricardo, Nicholas Saputra,  hingga Yosi Mokalu.

Objektif dari program tersebut adalah untuk memberikan literasi digital kepada para anggota KBT yang harapannya akan menjadi lebih paham soal kehidupan di dunia digital dengan menghadirkan empat pilar literasi digital. 

Kemenkominfo melalui Tim Literasi Digital sektor Masyarakat Umum menyelenggarakan Peluncuran Kegiatan Literasi Digital kepada KBT selama dua hari, 19-20 Oktober 2023. Kegiatan dihadiri oleh anggota Dharma Pertiwi, masing-masing 350 peserta offline setiap harinya. Selain itu, kegiatan peluncuran ini juga menarget sebanyak 10.000 peserta online.

Dituturkan Melaney, ada dua hal yang patut diperhatikan terkait sharing di media sosial (medsos). Terdapat sharing yang tujuannya untuk menginspirasi, namun ada pula yang penyampaiannya kurang tepat sehingga cenderung masuk kategori flexing. 

“Ketika kita mempertontonkan kesuksesan kita, pertama-tama harus bertanya pada diri sendiri apa tujuannya, kalau memang berniat menginspirasi, cara menyampaikannya juga harus tepat,” sarannya. 

Dengan segala kemudahan, sekarang sudah bisa membuat konten melalui smartphone. Kemudahan itu, tambah Melani, merupakan pisau bernata dunia yang jika tidak digunakan dengan tepat dapat membawa malapetaka dan akibat-akibat lain yang tidak diinginkan. 

“Pikirkan berkali-kali untuk memfilter konten yang sudah dibuat. Apakah hal itu nantinya akan membawa impact yang baik atau tidak. Jika tidak, mendingan tidak usah di-share,” ia menekankan. 

Pada kesempatan yang sama, Nicholas Saputra turut menyuarakan mengenai pentingnya menyadari bahwa dunia digital adalah dunia yang dimiliki oleh semua orang, sehingga patut berhati-hati dan mengontrol diri. “Weapon of mass destruction itu bisa terjadi lewat smartphone atau digital. Ini jadi perhatian penting karena telah menjadi bagian hidup kita,” katanya.

Lebih jauh ia menegaskan, seiring dengan bergesernya budaya berinteraksi, manusia juga menjadi lebih sering mengoperasikan gawai dalam sehari-harinya. “Bijak bermedia sosial juga menyangkut bagaimana kita mengoperasikannya,” Nicholas menekankan.

Yosi Mokalu yang turut menjadi pembicara pada hari kedua sependapat dengan para pembicara di hari yang sama. Menurut Yosi, media sosial juga memiliki do’s and dont’s yang wajib diperhatikan penggunanya. Jika ingin dihormati, baiknya menghormati orang lain. Pun jika tidak ingin mendapatkan komen negatif, harus menghindari melakukan hate speech kepada pengguna lain. 

Dia turut menyinggung mengenai fenomena akun ganda yang saat ini marak dimiliki oleh netizen. Beberapa hal yang terjadi adalah akun-akun semacam itu lantang menyuarakan hate speech kepada pengguna lain. Mereka berperilaku demikian karena tidak bertatap muka dan bersembunyi di balik hal yang tidak nyata. Hal sedemikian rupa juga bisa saja melibatkan para anak-anak. Oleh sebab itu, para orangtua wajib waspada. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)