Inilah jatuh bangun pemain komoditi yang mencoba mengolah pasar ritel. BUMN Perkebunan lain pantas belajar liku-liku pemasaran teh Walini produksi PTP VIII.

Tak beda dengan kafe-kafe kegemaran anak muda, Walini Tea Gallery yang terletak di jalan Dago Bandung (sekarang bernama Jl Ir H DJuanda) menampilkan suasana cozy yang cocok untuk bersantai. Tiga anak muda di kursi pojok terlihat asyik memainkan notebook-nya ditingkah canda tawa yang akrab.

walini WALINI TEA GALLERY - Sering mengadakan atraksi menggarang teh (mendidihkan teh di atas bara api) yang akan meruapkan wangi ke seluruh area café

Sesekali mereka mencecap isi cangkir yang masih mengepul di meja. “Sejak kami pasang wifi, banyak mahasiswa yang akhirnya nongkrong di sini,” ujar Andriani Nasution, Manajer Industri Hilir Teh PT Perkebunan Nusantara VIII (IHT PTP VIII).

Ya, kafe teh seluas 400 meter persegi yang dibuka sejak Agustus 2010 itu merupakan pengembangan bisnis teh Walini produksi IHT PTPN VIII. Bukan sekadar café teh dan makanan, Walini Gallery juga diposisikan sebagai pusat informasi seluk beluk dunia per-teh-an. Di sana tersedia ruang baca lengkap dengan informasi tentang jenis-jenis teh produksi PTPN VIII. Lokasi itu sekaligus dijadikan reservasi untuk Agrowisata PTPN VIII yang tersebar di Wilayah Jawa Barat, seperti Agrowisata Gunung Mas, Malabar, Ciater, Rancabali dan lokasi lainnya.

Di area bartender, ratusan toples kaca berisi aneka teh produksi PTPN VIII tampak memenuhi dinding. Menurut Andri, pada hari-hari tertentu Walini Gallery sering mengadakan atraksi menggarang teh (mendidihkan teh di atas bara api) yang akan meruapkan wangi ke seluruh area café. Atraksi itu sengaja dilakukan secara terjadwal guna memberikan experience yang mendekatkan gambaran suasana pabrik pengolahan teh bagi pengunjung.

Walini Tea Gallery merupakan café teh Walini terbesar yang mereka miliki. Sebelumnya, Walini sudah memiliki lima teras/café teh dengan konsep berbeda-beda. Jika Gallery Dago menawarkan konsep café, dua meetingpoint Walini yang berada di Jalan Riau didesain sebagai tempat minum teh di tengah-tengah petualangan belanja di FactoryOutlet (FO) atau untuk orang yang sedang menikmati liburan. Selain teh, sajian yang tersedia di sana adalah aneka jenis makanan tempo dulu.

Dua teras Walini yang lain adalah Tahu Lembang yang terletak di area wisata Lembang. Konsepnya adalah tempat nongkrong sambil menunggu kedatangan anggota keluarga lain yang terpencar. Di area ini, Walini juga menyediakan berbagai fasilitas kegiatan luar ruang semacam outbond.

Sementara meetingpoint Walini yang terakhir sengaja didirikan di international airport Husein Sastranegara. Menurut Andri, café di bandara ini mendapat sambuan yang sangat bagus, terutama dari para expatriate asal Malaysia dan Singapura.

Satu benang merah yang menjadi penyatu konsep seluruh meetingpoint Walini adalah fashion. Semua teras/café itu 'ditempelkan' pada FO yang telah menjadi ikon wisata kota Bandung. Untuk menjalankan bisnis FO ini, Walini menjalin kongsi dengan beberapa pemain FO terkemuka di Bandung.

Namun secara umum, Andri mengakui bahwa ide konsep café/teras teh Walini adalah sebuah teahouse tempo dulu tempat orang-orang Belanda menghabiskan sore di jaman penjajahan. Teahouse itu bernama Bumi Sangkuriang dan juga terletak di Dago atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Jl Juanda.

Tags:
Gallery lini Tea

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)