MIX.co.id - Menyampaikan pesan melalui foto makanan. Itulah ensensi food fotografi yang belakangan marak menjadi konten di media sosial dan diminati para netizen. Penggemar konten jenis ini sangat banyak, tak heran kalau para content creator pun beramai-ramai nyemplung di genre ini.

Terkait tren tersebut, Shopee mengadakan event virtual BincangShopee dengan mengambil tema “Gugah Selera lewat Kreasi Konten Makanan.” Acara tersebut diadakan untuk menyambut event promo 7.7 Mega Elektronik Sale yang akan diadakan bulan depan.

Putri Lukman, Head of Electronics & FMCG Shopee Indonesia menjelaskan BincangShopee kali ini merupakan dukungan Shopee agar masyarakat semakin bebas menuangkan kreativitasnya dalam pembuatan konten dan mendapatkan inspirasi serta trik yang tepat.  Untuk acara ini mereka menggandeng dua expert di bidangnya yaitu food  content creator MagdalenaF dan food fotografer Silva Sandiarini.

Perjalanan untuk membuat konten makanan bisa dimulai dari langkah yang sederhana. Misalnya dengan selalu memotret makanan sebelum disantap. Hal ini yang dulu dilakukan content creator Mgdalenaf saat mulai profesinya di tahun 2015.  “Bersamaan dengan itu, saya  terus mempelajari teknik-teknik untuk membuat hasil visualnya lebih menarik agar objek makanannya dapat menggugah selera,” tuturnya.

Berdasarkan pengalamannya, Magda berbagi beberapa kunci sukses  untuk menjadi flood vlogger. Pertama, menetapkan value diri, personal identity dan deferensiasi sesuai dengan karakter kita. Positioning dan personal identity ini harus sudah ditetapkan sejak awal karena itulah persepsi  yangnetizen dan follower.  Sejauh ini,  Magda telah berhasil menonjolkan positioning dirinya sebagai food vlogger “bar-bar” dengan gaya santapnya yang berlebihan terutama  dari volume makanannya.

Poin kedua adalah terus meningkatkan skill baik fotografi/videografi, bahkan public speaking. “Terus belajar untuk menyempurnakan kekurangan kita karena netizen paling pinter menemukan celah di situ. Sebelum mereka menemukannya kita cari dulu sendiri dan perbaiki. Jangan sampa komentar pedas mereka  bisa membuat kita down,” paparnya.

Menjawab pertanyaan tentang tren di dunia foodvloger, Magda mengaku terus-terang bahwa  sekarang tidak mudah mencari deferensiasi karena di samping pemain sangat banyak, object konten juga banyak yang serupa kendati pilihannya tak kalah banyak. Karena itu ia memilih membuat konten denga gaya “story behind the food”. Dengan  gaya ini, ia selalu mengeksplorasi  mulai dari penjualnya, ritual penyajian, cara pembuatan, venue, bahkan perjalanan hingga lokasinya di daerah mana.

Pada sesi berikutnya,  Silva memaparkan beberapa tips untuk membuat konten food fotografi/videografi yang baik. Berikut beberapa di antaranya :

1. Siapkan peralatan fotografi atau videografi yang tepat  Untuk hasil visual maksimal, Silva menyarankan penggunaan kamera profesional dengan lensa yang tidak terlalu wide untuk hasil visual maksimal, seperti lensa 50mm, 85mm serta 105mm. Selain kamera profesional, bisa juga digunakan smartphone yang dilengkapi dengan kamera memadai.

Selain itu lengkapi dengan properti pendukung seperti triplek dan karton putih untuk latar belakang foto dan properti lain guna mempercantik seperti daun kering maupun variasi mangkuk atau piring. Untuk menciptakan hasil konten yang stabil, manfaatkan bantuan tripod sebagai penopang kamera atau smartphone yang digunakan.

2. Teknik pencahayaan yang sesuai. Pencahayaan merupaka salah satu unsur paling penting untuk mendapatkan hasil visual yang baik.  Untuk masalah ini, Anda dapat menggunakan teknik Artificial Lighting dan/atau Natural Lighting. Teknik Natural Lighting paling mudah digunakan untuk mempercantik obyek makanan karena memanfaatkan cahaya alami seperti matahari. Namun jika lokasi pengambilan gambar tidak mendapatkan cahaya matahari alami yang baik, dapat digunakan Artificial Lighting atau cahaya tambahan.

Posisi cahaya juga ikut mempengaruhi visual yang dihasilkan serta tone dan mood dari visual tersebut. Untuk menciptakan nuansa visual dimana bayangan foto tidak menyeluruh, Anda bisa meletakkan pencahayaan dari samping objek atau side light. Teknik pencahayaan dari belakang objek atau rim light maupun cahaya dari ¾ objek atau oval light juga bisa digunakan dan disesuaikan dengan nuansa yang diinginkan.

3. Sudut pengambilan gambar (angle) yang tepat. Agar mendapatkan hasil maksimal dalam sesi pengambilan gambar, cermati bagian makanan apa yang hendak ditonjolkan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengatur sudut pengambilan atau angle gambar agar hasil visual yang dihasilkan memiliki nilai lebih dan mampu membuat audiens tertarik untuk mencicipi makanan tersebut. Sudut pengambilan gambar terbaik untuk makanan adalah dari sudut 0°, 10-20°, 45°, dan 90° maupun dari sudut sejajar mata atau eye-level. Contohnya, jika ingin memperlihatkan nasi campur yang berisi bermacam lauk pauk di atas piring, bisa digunakan sudut 45° agar seluruh isi piring dapat diperlihatkan.

4. Plating dan properti pendukung untuk sentuhan akhir. Tidak hanya makanan yang dapat menggugah selera, properti pendukung yang tertata rapi hingga penataan makanan di piring atau mangkuk juga dapat menambah nilai visual dari konten. Dengan teknik food styling yang tepat, Anda bisa mendapatkan hasil visual maksimal dari objek makanan yang digunakan. Untuk itu, pahami dulu apa objek makanannya, kemudian tata  properti pelengkap yang sesua dengan jenis makanan dan i penempatannya agar terlihat presisi pada hasil akhir konten makanan tersebut. Beberapa contoh properti pelengkap yang bisa digunakan adalah piring, peralatan makanan seperti garpu dan sendok, cut board kayu, dan lain sebagainya. (Bntari)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)