Bisnis Furniture Adelaide Chintara

Kepeduliannya dengan furniture serta houseware lokal, membuat Adelaide Chintara memilih jalur entrepreneur. Tahun 2016, bermodal Rp 100 juta, alumnus Pepperdine Graziadio Business School-Amerika itu memutuskan membangun usaha bersama partner. Urban Quarter adalah bisnis furniture sekaligus houseware yang hadir melalui offline maupun online.

"Ide Urban Quarter bermula dari kepedulian saya terhadap brand-brand furniture lokal yang kurang diminati oleh produsen di Indonesia. Padahal, ketika saya sekolah di Amerika, banyak furniture bagus di sana, yang ternyata buatan Indonesia," ceritanya.

Oleh karena itu, setelah sempat bekerja di Nexus Furniture Jakarta, Adelaide memberanikan diri mendirikan Urban Quarter berkonsep online store di www.urbanquarter.com dan Instagram @urbanquarter.id. "Melalui Urban Quarter, saya ingin mempertemukan pembeli dengan penjual furniture lokal terbaik yang sudah dikurasi," ungkapnya.

Selang setahun, pada Februari 2017, millennial kelahiran Jakarta 26 September 1993 itu memutuskan untuk meluncurkan gerai offline Urban Quarter di Kelapa Gading, Jakarta. "Gerai fisik ini tetap penting bagi konsumen furniture di Indonesia, karena mereka masih butuh melihat dan merasakan langsung furniture yang mereka beli. Untuk itu, kami juga menambah gerai fisik Urban Quarter di Plaza Indonesia, Jakarta," lanjutnya.

Mengusung konsep furniture bergaya modern, mid century, scandinavian, hingga minimalis, saat ini menurut Adelaide, saat ini Urban Quarter sudah memiliki 300 item produk. "Item ini akan terus kami tambah untuk menjawab tren dan kebutuhan konsumen. Untuk furniture, kami punya pabrik di Tangerang demi memenuhi furniture yang ready stock. Sementara untuk produk houseware, kami menggandeng local brand," tuturnya.

Target konsumen yang disasar Urban Quarter adalah wanita, pasangan muda, millennials dengan SES B hingga A. "Selain segmen B2C (Business to Consumer), kami juga menyasar segmen B2B (Business to Business). Misalnya, dengan menyasar kantor, kafe, restoran, hotel, dan co-working space. Untuk segmen B2B, memang market-nya masih didominasi oleh co-working space," ujarnya.

Diakui Adelaide, selain desain, niai lebih lainnya yang ditawarkan Urban Quarter adalah harga yang terjangkau dan kualitas yang berstandard internasional. "Harga kami dimulai dari Rp 15 ribuan untuk produk houseware seperti sendok, hingga Rp 8,5 juta untuk produk furniture seperti sofa," katanya.

Kini, dua tahu berjalan, bisnis yang digeluti Adelaide makin moncer. Tiap tahunnya, kinerja penjualan Urban Quarter terus bertumbuh. Item produk misalnya, dari yang awalnya hanya 10 item, kini sudah mencapai 300 item. "Porsi pendapatan antara segmen B2C dan B2B masih sama, 50:50," ia menegaskan.

Ke depan, ia menargetkan Urban Quarter akan makin kuat di segmen B2B, dengan menggarap kota Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan--yang notabene merupakan market utama Urban Quarter. "Tahun ini, kami berencana membuka gerai Urban Quarter di Bandung, karena di daerah itu ada banyak cafe-cafe kekinian yang memang menjadi target market Urban Quarter," ia menutup.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)