Tantangan Ida Swasti Merintis Bisnis Lingerie

Kecintaannya pada lingerie memicu Ida Swasti untuk merintis bisnis lingerie dengan merek Nipplets. Millennial lulusan Universitas Wollongong-Australia jurusan Marketing itu mengaku tercetus menghadirkan Nipplets pada tahun 2016, karena pada saat pulang ke Indonesia, ia sulit mendapatkan lingerie. “Kalaupun ada, lingerie hanya bisa diperoleh di mal-mal,” kisahnya.

Diakui perempuan berusia 24 tahun itu, merintis bisnis lingerie tidaklah mudah. Ia harus menghadapi tantangan berupa persepsi sekaligus stigma negatif yang telanjur melekat di benak konsumen Indonesia. Di antaranya, lingerie yang dipersepsi sebagai busana “nakal” atau lingerie yang hanya digunakan untuk kepentingan pasangan, maupun lingerie yang hanya untuk wanita-wanita berbadan sempurna layaknya bintang model Korea atau siaran reality show pemilihan top model di TV kabel.

Saya seringkali mendapatkan penilaian bahwa perempuan yang jualan lingerie pasti perempuan nakal. Dan, ini sudah jadi makanan sehari-hari. Oleh karena itu, saya perlu melakukan edukasi kepada masyarakat untuk mengubah stigma tersebut. Termasuk, mengedukasi perempuan Indonesia bahwa menggunakan lingerie tidak hanya untuk kepentingan pasangan, tetapi juga untuk kepentingan diri sendiri,” urai Ida pada hari ini (18/9), di Jakarta.

Salah satu upaya edukasi yang dilakukan Nipplets adalah menggelar kampanye “Real People Real Body”. Kampanye ini menyasar para wanita Indonesia, terutama para wanita yang kurang percaya diri akan bentuk tubuh mereka sesudah mengandung dan melahirkan anak. “Melalui kampanye ini, kami memilih 50 orang wanita untuk menjadi model koleksi Nipplets terbaru. Kami tampilkan mereka apa adanya, tanpa perlu takut menggunakan lingerie,” ungkapnya.

Kampanye “Real People Real Body” yang digelar di tahun ini pun menggunakan pendekatan media. Nipplets mengundang media pada hari ini (18/9), di Jakarta, untuk bincang-bincang tentang kampanye “Real People Real Body”. Pada kesempatan itu, dihadirkan juga seorang psikolog, Pingkan C.B Rumondor, S.PSI.M.PSI.

Lingerie juga berfungsi menjadi ekspresi identitas diri sang wanita. Artinya, menggunakan lingerie bukan hanya supaya 'terlihat seksi di depan pasangan', tetapi karena ia memilih untuk merasa nyaman dengan dirinya sendiri,” jelas Pingkan.

Sejak dirilis, kampanye “Real People Real Body” mendapat sambutan positif dari pasar. “Banyak feed back positif di media sosial tentang kampanye ini. Bahkan, dengan kampanye ini, perempuan pun mulai berani membeli lingerie,” ujar Ida, yang menyebutkan setiap tahunnya penjualan Nipplets bertumbuh signifikan.

Menyasar pasar perempuan usia 24-34 tahun sebagai target utamanya, saat ini Nipplets telah menghadirkan koleksi lingerie dalam berbagai model, ukuran, pola, dan bahan yang berbeda-beda. Mulai dari night gown, babydoll, bodysuit, bra set, sexy lingerie, crotchless panties, hingga easy access bra. Harga yang ditawarkan, menurut Ida, juga cukup terjangkau, yakni mulai dari Rp 199 ribu hingga Rp 499 ribu. Koleksi Nipplets dapat dibeli melalui laman website di www.shopnipplets.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)