Ketua Umum APPRI: Gunakan Filosofi Layang-Layang Demi Hadapi Krisis Covid-19

Perusahaan konsultan Public Relations (PR) menjadi salah satu industri yang turut terdampak krisis Covid-19. Hal ini diakui oleh Jojo Nugroho, Ketua Umum APPRI (Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia), yang juga Managing Director Imogen PR.

"Dampak pandemi Covid-19 menurunkan pendapatan kami (agensi PR) hingga 50%. Bahkan, ada sejumlah sektor industri yang selama ini menjadi klien kami memilih berhenti melakukan aktivasi. Antara lain, sektor travel dan infrastruktur," papar Jojo, pada diskusi online APPRI CONNECT yang digelar hari ini (3/6).

Kendati sejumlah sektor menurun seperti rumah sakit yang juga turun lantaran orang takut ke rumah sakit, diakui Jojo, ada berbagai sektor yang masih bagus selama pandemi. Sebut saja, farmasi, makanan dan minuman, pendidikan, eCommerce, logistik, e-games, hingga telekomunikasi.

Demi tetap eksis di masa pandemi dan New Normal nanti, Jojo menawarkan solusi lewat filosofi layang-layang. Ada delapan hal yang terkandung dalam filosofi layang-layang. Pertama, sebelum diterbangkan, layang-layang didesain terlebih dahulu. Begitu juga dengan bisnis agensi, harus didesain dulu konsep agensi, target market, dan sebagainya.

Kedua, untuk bisa menerbangkan layang layang, ditegaskan Jojo, kita harus tahu teknik untuk menerbangkannya. "Begitu juga dengan bisnis agensi PR, kita harus tahu teknik menjalankan bisnisnya," ucapnya.

Ketiga, semakin tinggi layang-layang, semakin tinggi anginnya. Begitu juga dengan bisnis agensi PR, makin besar skala bisnisnya, maka makin besar juga tantangan yang harus dihadapi.

Keempat, jangan pernah tali layang-layang dilepaskan. Begitu juga dengan bisnis agensi PR, dalam kondisi apapun jangan sampai bisnisnya dilepaskan.

Kelima, sambung Jojo, "Main layang-layang itu, enaknya main bareng. Nah, menjalankan bisnis agensi PR pun demikian, enaknya menggunakan strategi kolaborasi."

Keenam, tidak selamanya layang-layang terbang mulus. Kadang-kadang, menghadapi mati angin. Begitu juga dengan bisnis agensi PR, kadang-kadang menghadapi mati angin, seperti kondisi pandemi Covid-19 yang dialami saat ini.

Ketujuh, layang-layang harus terus bergerak dan mencari angin baru. Objektifnya, agar bisnis bisa terus berjalan, meski menghadapi situasi mati angin.

Antonny Liem, CEO of MCM Group, sepakat dengan filosofi yang dikemukakan Jojo. Menurutnya, krisis Covid-19 ini memang harus dihadapi dengan cara berkolaborasi, alias dihadapi bersama.

"Selain itu, agar bisnis tetap eksis di masa pandemi, memang harus memiliki banyak kanal bisnis baru. Misalnya, memiliki banyak layanan, produk, maupun model bisnis yang beda. Dengan demikian, jika ada layanan yang turun di masa pandemi, namun masih ada pendapatan dari layanan atau bisnis yang lain," papar Antonny.

Lebih jauh ia menjelaskan, di masa krisis Covid-19 seperti sekarang, justru PR seharusnya bersinar. Mengapa? Dijawab Antonny, karena PR memiliki peran dan andil dalam membantu perusahaan (klien) dalam menghadapi krisis.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)