Besarnya pasar consumer goods besar di Indonesia dan pertumbuhan kelas menengah sekitar 40% bukan tanpa halangan dan tantangan. Maka dalam rangka persiapan menghadapi tahun 2013, Unilever, menggelar Workshop dengan tema “Industri Consumer Goods: Tantangan 2013 dan Strategi Memenangkan Pasar”.

"Tantangan bagi para produsen consumer goods adalah konsumen yang semakin kritis seiring meningkatnya daya beli."

Acara yang diselenggarakan kemarin (21/11) sore di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta, tersebut bertujuan untuk memberikan informasi tentang seluk beluk industri consumer goods dan gambaran bisnis di Indonesia. Iwan Murty, Managing Director Ipsos Indonesia, menuturkan dalam presentasinya bahwa tren pasar consumer goods di tanah air akan meningkat di tahun depan sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Senada dengan yang diutarakan Iwan, Eka Sugiarto, Marketing Manager Personal Care PT Unilever Indonesia Tbk pun menjelaskan bahwa ada pergerakan yang cepat di tingat konsumsi. Tidak hanya di level kelas menengah, tetapi hampir di semua kelas tren-nya positif. Apalagi dengan semakin banyaknya kategori produk consumer goods. “Di kategori Shampo contohnya semakin spesifik dan dari sisi marketing kami men-delivered hal itu kepada konsumen, seperti shampoo for men atau facewash for men, dan lain sebagainya” tutur Eka.

Tantangan bagi para produsen consumer goods adalah konsumen yang semakin kritis seiring meningkatnya daya beli. Iwan menerangkan bahwa peluang konsumen dalam memilih dan berpindah produk, semakin tinggi. “Apalagi dengan disposable income yang semakin tinggi, menyebabkan semakin beragamnya produk pilihan untuk dikonsumsi. Peran strategi pemasaran menjadi penting disini,” tandasnya.

Sejalan dengan itu, Eka pun dengan lugas memaparkan, “Dilihat dari sisi strategi marketing, para pemain industri consumer goods diIndonesia harus lebih mempromosikan produknya kepada konsumen, termasuk produk Unilever. Demi meningkatkan tingkat konsumsi di masyarakat – misal konsumsi es krim.” Namun menariknya menurut Iwan, berdasarkan hasil Ipsos online cosumer behavior survey frekuensi belanja barang domestik lebih besar dibandingkan barang luar negeri.

Diakui Sancoyo Antarikso, External Relation Director and Corporate Secretary PT Unilever Indonesia Tbk bahwa kekuatan penting perusahaan ini terletak pada inovasi dan pemasaran. “Inovasi adalah motor penggerak bisnis kami. Selain itu sensitivitas lokal untuk mengetahui insight dari masyarakat (consumer insight-red) adalah salah satu kunci kesuksesan Unilever di Indonesia dan menjadi tantangan untuk terus mempertahankan hal itu di tahun mendatang.” imbuh Sancoyo.

Pernyataan Sancoyo tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan pesat Unilever Indonesia dari tahun ke tahun, hingga mencatat omset sebesar Rp 23,5 triliun di tahun 2011 lalu. Di kuartal ketiga tahun 2012, omset mencapai 20,3 triliun atau tumbuh 17,4% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)