“Banjir” Iklan, Efektifkah Branding di “Ikatan Cinta”?

Bersaing sengit dengan serial Drama Korea (Drakor), sinetron lokal “Ikatan Cinta” yang tayang di RCTI terbukti sanggup “unjuk gigi”. Mulai dari rating yang terus melonjak, cerita yang viral di dunia maya, hingga pendapatan iklan yang mencapai miliaran rupiah setiap episodenya.

Tak hanya heboh di dunia nyata, “Ikatan Cinta” Bahkan, beberapa adegan dari pemeran utamanya--Arya Saloka sebagai Aldebaran dan Amanda Manopo sebagai Andin--sempat viral di media sosial.

Program yang tayang perdana pada 19 Oktober 2020 ini, terus melonjak. Rating tertinggi yang diraih sinetron “Ikatan Cinta” pada episode 25 Januari 2021, mampu mencapai 14,1, dengan audience share 48,3. Rating tersebut sukses melampaui rekor musim ketiga sinetron “Cinta Fitri” yang pernah fenomenal pada masanya, dengan rating 12,6 dan audience share 39,2.

Hal itu membuat “Ikatan Cinta” yang diperankan Arya Saloka sebagai Aldebaran dan Amanda Manopo sebagai Andin tercatat sebagai sinetron dengan rating tertinggi di Indonesia dalam 15 tahun terakhir. Makin istimewa, pencapaian ini diraih pada jam tayang prime time, 19.30-21.00 WIB.

Tingginya rating program televisi, seperti biasa, diikuti juga oleh maraknya brand yang beriklan. Pada episode 2 Maret 2021 misalnya, menurut catatan MIX (lihat daftarnya di gambar--red), total iklan yang tayang pada sinetron “Ikatan Cinta” mencapai 96 iklan--di mana part-1 ada 36 iklan, part-2 ada 28 iklan, dan part-3 ada 32 iklan. Dari total iklan tersebut, mayoritas adalah iklan loose spot (tayang pada saat jeda iklan). Sisanya, iklan dalam bentuk built in (iklan di dalam tayangan program).

Merek-merek yang beriklan pun tercatat beragam, antara lain eCommerce maupun online platform (Lazada, Shopee, Tiket.com, Grabfood, Mitra Bukalapak, Tokopedia, Sociolla, Viu Original), digital payment (Linkaja), otomotif (Honda Beat), pesonal care (Wardah, Garnier Men), telekomunikasi (Smartfren, Kartu 3), Semen (Semen Tiga Roda), Susu (Pediasure, Chil Go, HiLo, Frisian Flag), Kopi (White Coffee Luwak, Kopi Tubruk Gajah), mie instant (Pop Mie, Lemonilo), obat (Promag, Antangin, Geliga, Kalpanak), bumbu masak (Masako), pelumas (Pertamina Enduro), fast food (McDonald’s), pembalut (Softex), dan sebagainya. Lemonilo dan White Coffee Luwak tercatat brand yang melakukan iklan built in di “Ikatan Cinta”.

Mengutip Big Alpha, rate iklan di RCTI pada jam prime time mencapai Rp 100 juta untuk durasi 30 detik. Sementara itu, untuk iklan jenis built in, biasanya rate-nya jauh lebih mahal dibandingkan loose spot. Dengan rate tersebut, pendapatan iklan yang dikantongi “Ikatan Cinta” diperkirakan mencapai lebih dari Rp 9 miliar pada episode 2 Maret 2021.

Clutter-nya pengiklan di program “Ikatan Cinta”, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para pemilik merek. Apakah beriklan di “Ikatan Cinta” terhitung efektif untuk mendapatkan brand awareness dari pemirsa “Ikatan Cinta”--yang mayoritas adalah segmen “emak-emak”?

Dijawab praktisi periklanan, Janoe Arijanto, yang juga CEO Dentsu One dan Ketua Umum P3I (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), fenomena ‘Ikatan Cinta’, secara kuantitatif, bisa diukur dan dilihat dari rating-nya yang tinggi. Selain itu, jeda iklanya juga bervolume tinggi.

"Fenomena Sinetron Ikatan Cinta memang jarang terjadi, karena jumlah brand yang tampil dalam jeda iklan totalnya bisa sangat banyak. Sementara kuota iklan yang sering dipakai adalah 20% dari program. Wajar kalau sinetron Ikatan Cinta, dipanjangkan durasinya untuk menempatkan iklan itu dalam porsi yang masih wajar dibanding dengan panjang durasi sinetronya. Belum lagi, masalah Build In iklan di sela sela sinetron, yang rate-nya lebih mahal dan harus mengantre untuk mendapatkan tempat di sana," papar Janoe.

Bicara soal efektivitas beriklan di sinetron “Ikatan Cinta”, menurut Janoe, tergantung jenis brand dan objektif kampanye yang dipakai sebuah brand. “Kalau karakter sebuah sinetron itu cocok dan sebuah brand yang ingin membangun awareness main stream, bisa efektif. Meskipun, masih banyak faktor-faktor lain dalam efektivitas sebuah iklan dalam sebuah program,” ia menekankan.

Lebih jauh Janoe menegaskan, selain rating yang tinggi, iklan masih harus memenuhi beberapa faktor untuk memenuhi tingkat efektivitasnya. Di antaranya, kekuatan pesan, relevansi image brand dengan program, stopping power dari iklan tersebut, dan sebagainya.

“Iklan yang lemah pesannya, yang tidak memiliki relevansi dengan karakter audience dan tidak memilki stopping power, tetap saja akan bisa berefek lemah ketika dipasang di sebuah program ber-rating tinggi. Jadi, akan ada faktor lain yang berpengaruh," ia menjelaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)