Tim Corporate Citizenship Samsung

Tahun ini, dua program CSR Samsung berhasil menyandang penghargaan “Indonesia’s Best Corporate Sustainability Initiatives 2019” untuk kategori Philanthropy dan Creating Shared Value. Kesuksesan tersebut tak lepas dari kelincahan tim kecil Corporate Citizenship Samsung. Siapa mereka?

Salah satu elemen yang dapat memperkuat reputasi perusahaan adalah kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang berdampak pada masyarakat sekitar. Tak heran, jika banyak perusahaan sudah menyadari pentingnya kehadiran Tim CSR dalam struktur organisasi perusahaan, yang bertanggung jawab untuk setiap kegiatan CSR.

Hal itu juga disadari produsen elektronik asal Korea Selatan, PT Samsung Electronics Indonesia, yang baru saja meraih dua penghargaan “Indonesia’s Best Corporate Sustainability Initiatives 2019” untuk kategori Philanthropy dan Creating Shared Value.

Dikatakan Ennita Pramono, Head of Corporate Citizenship PT Samsung Electronics Indonesia, sejak lama Samsung sudah melakukan praktik CSR. “Namun, kegiatan CSR waktu itu masih dilakukan di masing-masing divisi, misalnya divisi Service Center, Marketing, Public Relations (PR), dan sebagainya,” ujarnya.

Pada tahun 2013, Samsung memutuskan untuk menghadirkan Divisi Corporate Citizenship, yang berada di bawah General Affairs dan report-nya langsung ke Vice President PT Samsung Electronics Indonesia Lee Kang Hyun. Dipimpin Ennita, tim Corporate Citizenship Samsung memang terhitung ramping. Hanya ada tiga personil, yakni Ennita, Thesa Anggi Aprilia Pratiwi sebagai Senior Staff Corporate Citizenship, dan Wulan yang bertugas menangani administrasi.

Kendati ramping, namun aneka program CSR yang dicanangkan sekaligus dieksekusi cukup massif dan berdampak sangat besar kepada para penerima manfaat. “Dari empat pilar CSR Samsung, yakni Pendidikan, Community Development, Employee Volunteering, dan Samsung Care (philanthropy), kami dituntut untuk mampu merancang dan mengeksekusi program yang dapat berdampak positif kepada community. Prinsipnya adalah enabling people,” urai Ennita.

Dua program CSR Samsung yang baru saja memperoleh penghargaan “Indonesia’s Best Corporate Sustainability Initiatives 2019” dari Majalah MIX, yakni “Samsung Care: A Disaster Relief Program for Lombok & Central Sulawesi” dan “Samsung Tech Institute”, menjadi bukti bahwa tim ramping Corporate Citizenship tercatat powerful.

Dipaparkan Ennita, melalui program “Samsung Care: A Disaster Relief Program for Lombok & Central Sulawesi”, Samsung menghadirkan posko Samsung Peduli di Dusun Lekok dan Menggala, tempat daerah bencana. Di posko tersebut, Samsung menawarkan cuci gratis dengan melayani pencucian baju untuk 771 orang. Di posko itu, Samsung juga menghadirkan dapur umum yang membagikan lebih dari 9.000 bungkus. “Kami juga memberikan layanan perbaikan gratis untuk produk elektronik yang rusak akibat gempa,” ceritanya.

Sementara itu, di program “Samsung Tech Institute”, Samsung memberikan pelatihan bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) maupun para guru. Dikatakan Ennita, “Samsung Tech Institute” merupakan program berkelanjutan yang sudah digelar sejak 2013 hingga sekarang. Awalnya, program tersebut untuk mereka yang putus sekolah, pengangguran, atau mereka yang ingin sekolah sambil bekerja. Mereka diberikan pelatihan untuk perbaikan elektronik.

Sejak ada anjuran pemerintah untuk memberdayakan anak SMK, maka tahun 2017, program Samsung Tech Institute fokus pada siswa SMK di seluruh Indonesia. Saat ini, sudah ada 69 SMK yang telah mengimplementasikan Samsung Tech Institute ke dalam kurikulum maupun esktrakulikuler. Akhir tahun ini, kami menargetkan ada 100 SMK yang dapat dijangkau lewat program ini,” ia menuturkan.

Selain kurikulum, melalui program Samsung Tech Institute, siswa juga memiliki kesempatan untuk Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Samsung serta berkesempatan bekerja di Samsung maupun di network service center Samsung. Bahkan, tak sedikit dari mereka mampu menjadi entrepreneur dengan membuat usaha pusat perbaikan produk elektronik ataupun konter hape. “Selain itu, para guru pun kami latih dua kali dalam setahun di Service Center Samsung,” tambahnya.

Diakui Ennita, kepuasan sekaligus golden moment tim Corporate Citizenship Samsung adalah ketika para penerima manfaat mendapatkan manfaat dari program CSR yang sudah digelar. Ennita mencontohkan, bagaimana salah seorang yang mengikuti program pelatihan digital marketing yang digelar Samsung mengaku mampu menjual 100 unit produknya ke pasar ekspor, setelah ia mendapat pelatihan digital marketing. “Diapresiasi oleh para penerima manfaat merupakan kepuasan sekaligus golden moment bagi kami,” ujarnya.

Dengan tim kecil, justru setiap personil lebih leluasa berkoordinasi. Selain pertemuan Weekly Update setiap Jumat, masing-masing personil juga bebas berkoordinasi kapan saja. “Apalagi, kursi kerja kami bersebelahan. Jadi, kapan saja kita harus berkoordinasi, bisa kami lakukan setiap saat,” tutur Thesa, yang mengaku atmosfer yang dihadirkan di dalam tim adalah kekeluargaan dan bebas mengemukakan pendapat.

Terkait program CSR yang berkelanjutan yang rutin digelar setiap tahunnya, diakui Ennita, tentu dibutuhkan ide segar dan kreatif. Dengan demikian, program CSR tidak monoton. Biasanya, yang tim Corporate Citizenship lakukan adalah dengan mengikuti regional meeting sekali dalam setahun. “Melalui partisipasi di regional meeting, kami bisa mendapatkan ide-ide baru yang pernah dilakukan di negara lain, yang tentu saja bisa diadopsi sekaligus disesuaikan dengan karakter Indonesia,” ungkapnya.

Cara lainnya adalah datang atau berpartisipsi di konferensi atau CSR Summit, yang biasanya dilakukan 2-3 kali dalam setahun. Termasuk, rajin membaca literature. “Kami bersyukur, perusahaan mendukung kami, karyawan, untuk meningkatkan knowledge maupun mencari ide-ide kreatif,” lanjut Ennita.

Dalam merancang program CSR, tim Corporate Citizenship Samsung mengusung konsep kolaborasi. Artinya, selain berkolaborasi dengan berbagai divisi yang ada di Samsung, mereka juga berkolaborasi dengan mitra atau partner. “Selain kolaboratif, kami juga harus bisa saling menginspirasi,” ucapnya.

Ditambahkan Thesa, dengan tim kecil, maka hampir setiap personil melakukan perjalanan ke kota atau ke daerah terpencil setiap minggunya. “Sebab, untuk merancang program, tim harus memahami betul kondisi dan kebutuhan masyarakat yang akan disasar. Biasanya, hal ini akan memperkaya cerita, karena kami bisa belajar banyak dari mereka, dengan ikut menginap di tempat terpencil yang tanpa sinyal,” ia mengisahkan.

Di sela-sela ketika bertugas ke luar kota, biasanya tim Corporate Citizenship Samsung memanfaatkan momen itu untuk re-energize. “Biasanya, yang kami lakukan adalah dengan mencari dan menikmati menu khas kuliner setempat, karena kami memang suka makan. Re-energize juga menjadi momen team bonding,” tutup Ennita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)